Sabtu, 31 Mei 2014

tehnik dasar menggunakan kamera DSLR

Fotografi:
Fotografi ( Photography ) berasal dari kata Foto ( Cahaya ) dan Graphia ( menulis / menggambar ), sehingga dapat diartikan bahwa fotografi adalah suatu teknik menggambar dengan cahaya. Atas dasar tersebut, jelas bahwa cahaya sangat berperan penting dan menjadi sumber utama dalam memperoleh gambar.
Kamera SLR:
Kamera SLR ( Single Lens Reflex ) atau D-SLR ( Digital ) merupakan kamera dengan jendela bidik ( viewfinder ) yang memberikan gambar sesuai dengan sudut pandang lensa melalui pantulan cermin yang terletak di belakang lensa. Pada umumnya kamera biasa memiliki tampilan dari jendela bidik yang berbeda dengan sudut pandang lensa karena jendela bidik tidak berada segaris dengan sudut pandang lensa.
Fotografi berkaitan erat dengan cahaya, maka kamera berfungsi untuk mengatur cahaya yang ditangkap image sensor ( sensor gambar pada kamera digital atau film pada kamera konvensional ). Untuk mengatur cahaya, terdapat 2 hal mendasar dalam kamera, yakni Shutter Speed ( Kecepatan Rana ) dan Aperture ( Diafragma ).
Shutter Speed :

Shutter speed atau kecepatan rana merupakan kecepatan terbukanya jendela kamera sehingga cahaya dapat masuk ke dalam image sensor. Satuan daripada shutter speed adalah detik, dan sangat tergantung dengan keadaan cahaya saat pemotretan. Semisal cahaya terang pada siang hari, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih cepat, semisal 1/500 detik. Sedangkan untuk malam hari yang cahayanya lebih sedikit, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih lama, semisal 1/5 detik. Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa foto pada malam hari cenderung buram, bahwa shutter speed yang lebih lambat memungkinkan pergerakan kamera akibat getaran tangan menjadikan cahaya bergeser sehingga foto menjadi buram / blur.
di bawah ini foto dengan suhtter speed lambat (mode BLUB)

foto di bawah dengan shutter speed cepat

Apperture :
Aperture atau diafragma merupakan istilah untuk bukaan lensa. Apabila diibaratkan sebagai jendela, maka diafragma adalah kiray / gordyn yang dapat dibuka atau ditutup untuk menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk. Pada kamera aperture dilambangkan dengan huruf F dan dengan satuan sebagai berikut:
f/1.2
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst…
Semakin kecil angka satuan maka akan semakin besar bukaan lensa ( f/1.4 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/4.0 ).
Jadi, korelasi antara shutter speed dan aperture adalah bahwa semakin besar bukaan lensa, maka shutter speed akan semakin cepat, sebaliknya semakin kecil bukaan lensa, maka shutter speed akan semakin melambat
Mode pada kamera DSLR :
Setiap kamera punya istilah masing – masing untuk pengaturan mode. Berikut dijelaskan untuk beberapa tipe kamera saja.
Pada kamera Nikon D70 terdapat 11 mode pemotretan :

M= Full Manual
Pada mode ini pengaturan kamera sepenuhnya manual, baik shutter speed, aperture, ISO, dsb.
A= Aperture Priority
Pada mode ini aperture dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun shutter speed akan mengimbangi secara otomatis akan kebutuhan cahaya sesuai dengan besar aperture.
S= Shutter Priority
Pada mode ini shutter speed dapat diatur sesuai dengan kehendak, namun aperture akan mengimbangi secara otomatis kebutuhan cahaya yang sesuai dengan shutter speed.
P= Program
Pada mode ini baik aperture maupun shutter speed akan mengkalkulasi secara otomatis sesuai dengan kebutuhan cahaya, hanya saja pada mode ini tingkat exposure dapat diatur sesuai dengan kehendak.
Auto
Mode auto merupakan mode dimana kamera secara penuh mengatur akan segala kebutuhan pengaturan, dengan kata lain pada mode ini fotografer tinggal “jepret” saja.
Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan portrait ( foto manusia ), seperti penggunaan tonal warna untuk skin tone, dsb.
Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan ( landscape), seperti tone warna yang lebih vivid atau lain sebagainya.
Macro
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto macro ( jarak dekat sehingga objek tampak lebih besar ), seperti fokus lensa yang lebih disesuaikan.
Moving Object
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemotretan objek yang bergerak, sehingga fokus lensa akan lebih cepat bergerak menyesuaikan dengan pergerakan objek.
Night Landscape
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto pemandangan pada malam hari.
Night Portrait
Mode ini merupakan pencabangan mode full auto, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan foto portrait malam hari atau cahaya redup.
Pengaturan Cahaya
Setiap kamera memiliki light meter yang berfungsi mendeteksi intensitas cahaya. Sebelum menekan tombol shutter, apabila menggunakan kamera pada mode manual ada baiknya memperhatikan exposure meter terlebih dahulu. Berikut gambar exposure indicator

Tampak pada gambar di atas bar yang mengindikasikan exposure. Apabila ingin menghasilkan foto dengan cahaya yang baik, letakan bar pada posisi tengah ( normal exposure ), namun apabila menghasilkan foto yang lebih terang, geser bar ke arah tanda + ( menjadi over exposure ), dan sebaliknya, untuk hasil foto yang lebih gelap geser bar ke arah – ( menjadi under exposure ).
Teknik Fotografi
1. Dept Of Field
Depth of field atau sering disingkat menjadi DOF merupakan salah satu teknik fotgrafi yang paling dasar. Setiap foto memiliki kedalaman ( depth ) yang terbagi atas foreground ( depan ) dan background ( belakang ). Fokus pada lensa kamera dapat dikendalikan atau diarahkan pada objek tertentu. Pengendalian Depth of Field berguna untuk membatasi fokus pada foto dan lebih memberi kesan hidup pada foto.
Contoh berikut menunjukan DOF pendek dengan fokus pada foreground:


2. Freeze
Setelah memahami DOF yang berkaitan dengan aperture, kali ini akan dijelaskan tentang freeze, dimana sangat berkaitan erat dengan shutter speed. Foto freeze bertujuan untuk mengabadikan suatu moment dengan gerakan cepat sehingga dapat tertangkap oleh kamera sebagai gambar diam, seperti foto tetesan air, ledakan, atau foto ketika orang sedang melompat dan lain sebagainya. Yang paling utama dalam mendapatkan foto freeze adalah mengatur shutter speed secepat mungkin ( misal 1/500 detik, 1/1000 detik, hingga 1/8000 detik ). Karena tuntutan shutter speed yang cepat, maka tentunya cahaya yang dibutuhkan sangat banyak, maka dari itu biasanya foto freeze amatir lebih banyak dilakukan di ruang terbuka pada siang hari dimana cahaya matahari bersinar terang. Bukan tidak mungkin untuk memperoleh foto freeze pada malam hari atau cahaya yang minim, namun peralatan pendukung mutlak diperlukan seperti flash atau bahkan lampu studio dengan kecepatan singkronisasi yang tinggi pula.
Berikut contoh foto freeze:

3. Movement
Bertentangan dengan foto freeze, foto movement bertujuan memperlihatkan pergerakan objek dengan shutter speed yang rendah, sehingga pergerakan objek dapat tampak pada hasil foto. Shutter speed yang digunakan cenderung rendah agar pergerakan objek dapat terekam ( misal 1/5 detik, 1 detik, dst ), namun yang patut diperhatikan adalah kamera harus tetap dalam posisi statis agar background daripada objek tetap fokus walaupun shutter speed lambat.
Berikut contoh foto movement:
4. Bulb
Foto bulb dapat diperoleh melalui mode manual dengan mengatur shutter speed pada setting paling lambat ( BULB ), dimana shutter akan terus terbuka selama tombol ditekan dan akan menutup kembali pada saat tombol dilepas. Yang patut diperhatikan pada foto bulb adalah posisi kamera yang mutlak harus statis, maka gunakanlah tripod untuk menghasilkan foto bulb.
Contoh foto blub : 

sekian penjelasan dari saya semoga bermanfaat bagi anda

Jumat, 30 Mei 2014

tehnik painting atau Melukis dengan cahaya (teknik fotografi)



Pernah melihat foto seperti di atas?. hm.. pernah terpikirkan pertanyaan, "bagaimana" ya untuk membuatnya?. nah, kali ini kita akan membahas bagaimana cara untuk menghasilkan foto-foto yang artistik di atas. oh iya, munkin untuk kawan-kawan yang punya hobi grafiti (plus) fotografi, akan menyukai trik ini. yang kamu bituhkan adalah.

1. Kamera SLR/DSLR

2. tripod

3.  Sumber cahaya (senter,led,lampu, dsb) 



Jika semua kebutuhan sudah disiapkan, 

1  gunakan aperture yang moderat. Antara f/4 sampai F/8 adalah pilihan awal yang bagus

2.set kamera di posisi bulb mode

3. Gunakan kabel release shutter lalu kunci di posisi lock, kalau anda tidak memiliki kabel release cari teman yang mau memencetkan tombol shutter sesuai waktu exposure yang dibutuhkan

4. Sekarang mulailah gunakan sumber cahaya untuk menerangi beberapa titik/area obyek foto atau mulailah membuat bentuk sesuai keinginan anda tadi

5. Usahakan anda tidak berdiri antara sumber cahaya dan lensa, kalau cahaya dari lampu ke lensa terhalang oleh badan anda maka hasil foto akan tampak ada siluetnya

6. Usahakan lama penyinaran antara satu titik ke titik lain sama waktunya agar hasil foto tampak lebih halus

7. setelah selesai ‘melukis”, lepaskan tombol shutter (atau kabel release)

8. lihat hasil akhir foto, kalau anda belum puas dengan foto akhir, ulangi lagi. Kadang diperlukan beberapa kali usaha untuk menentukan waktu exposure yang bagus sesuai dengan kekuatan sumber cahaya anda




Tips Memotret Fotografi Hitam Putih

apa keistimewaannya dengan foto-foto yang berwarna, foto hitam putih sendiri terkadang memiliki nilai seni yang justru lebih tinggi, biasanya foto ini bisa kita kaitkan pada tema abstract, atau juga foto people, banyak hal yang bisa kita lakukan dalam membuat foto hitam putih ini 
dalam hal ini kita harus menerapkan 
1. GUNAKANLAH RAW
Mungkin tidak semua kamera mempunyai fasiltas untuk memotret RAW, atau mungkin tidak suka karena RAW sangat merepotkan dalam hal post processing-nya.
Tetapi untuk memaksimalkan kontrol saat konversi dari warna ke hitam-putih, lebih baik gunakan RAW. Karena file RAW memiliki fleksibilitas lebih tinggi dan toleransi yang lebih baik.
Tentu saja tidak masalah menggunakan JPEG, ini sebuah pilihan. Tetapi cobalah sesekali menggunakan RAW, anda mungkin tidak ingin kembali menggunakan JPEG
 2. JANGAN GUNAKAN MODE HITAM PUTIH PADA KAMERA
Ya, bidiklah foto anda dalam mode warna. Karena jika begitu, anda mendapatkan file berwarna dan juga file hitam putih setelah di proses. Mode BW di dalam kamera tidak menawarkan banyak pilihan, [highlight color="yellow"]
Tips : Saat menggunakan mode RAW dan BW bersamaan dalam kamera, tampilan di LCD kamera tentu hitam putih, tetapi sebenarnya tidak berpengaruh pada file RAW (tetap berwarna).
Terlebih jika menggunakan RAW + JPEG. Anda mendapatkan fleksibilitas ekstra![/highlight]
3. GUNAKAN ISO RENDAH
Tidak hanya dalam memotret hitam-putih. Selalu gunakan ISO terendah kecuali anda ingin mendapakan shuter speed yang tinggi, ataupun efek grain dengan sengaja.
Konversi ke hitam putih akan memunculkan banyak noise dan artifak, maka lebih baik kita mulai dalam ISO rendah agar kualitas maksimal.
Tips : Gunakan ISO tinggi untuk efek grain yang dramatis. 
4. KAPAN HARUS MEMOTRET HITAM PUTIH?
Kondisi kontras rendah seperti cuaca berawan bisa menjadikan foto hitam putih yang bagus, karena hampir semua tingkat spektrum bisa ditangkap kamera.
[highlight color="yellow"]
Tips : Jika anda memotret warna dan hasilnya kurang memuaskan, cobalah mengubahnya menjadi hitam putih[/highlight]
5. ATUR KOMPOSISI
Memotret hitam putih, tentu anda sudah menghilangkan unsur warna-warni, Sehingga untuk menjadikan foto yang menarik, dibutuhkan impact yang lebih.
Saat memotret hitam-putih perhatikan bentuk, tekstur, pola dalam objek anda. Juga perhatikan highlight dan shadow, ini yang menjadi kunci foto hitam putih yang sukses.
CONTOH : gambar di bawah ini yang gua ambil di PANTAI POPOH TULUNGAGUNG

Tips memaksimalkan lensa kit DSLR

Lensa kit DSLR, atau yang biasa kita sebut ‘lensa bawaan kamera’ pada prinsipnya telah dipersiapkan untuk bisa menghadapi segala jenis (tipe) pemotretan. Oleh sebab itu hampir rata-rata lensa kit dari berbagai merk DSLR terkemuka hampir bisa dipastikan adalah lensa jenis zoom.


Kita bisa lihat dari lensa kit dari Canon EOS 600D kepunyaanku yang mempunyai rentang 18-55mm. Rentang yang sama pun didapat oleh para pecinta Nikon D60nya dan mendapatkan lensa kit dengan rentang 18-55. Begitu juga halnya dengan lensa kit bawaan Sony Alpha 300 yang mempunyai rentang 18-70mm.
Kalau kita perhatikan rentang zoom dari lensa kit diatas, maka penggunaan lensa kit ini bisa untuk pemotretan pemandangan (landscape) yang mengedepankan sisi terlebar (wide) lensa tersebut hingga pada mode potret (portrait) wajah seseorang.
Berikut ini ada beberapa tips untuk memaksimalkan lensa kit yang berhasil aku himpun dari berbagai website :
Kenali karakteristik zoom lensa kit. mulai dari sisi terlebar (wide) hingga sisi terjauhnya (tele)
Kenali karakteristik bukaan diafragma (aperture) lensa kit. mulai dari bukaan terlebarnya, hingga bukaan paling kecilnya
Perbanyak jam terbang memotret. Bisa dengan cara mengikuti kegiatan hunting rame-rame, ataupun memotret serangga yang hinggap di depan teras rumah pun jadi.
Pada dasarnya lensa kit ini telah dipersiapkan oleh produsen kamera DSLR untuk bisa menghadapi segala jenis pemotretan pada umumnya. Semua terkembali pada diri kita sebagai eksekutor terakhir untuk bisa menghasilkan foto dengan kualitas terbaik dengan kondisi peralatan seadanya.
Selamat berkarya.

Canon EOS 1200D


Saat pesaingnya berlomba-lomba merilis kamera mirrorless baru, Canon masih setia dengan format DSLR dan kamera saku. Tak sekadar kelas profesional, melainkan juga versi entry level.

DSLR kelas entry level ini bisa saja diposisikan oleh Canon untuk melawan kamera mirrorless, karena Canon belum juga memperbarui kamera mirrorless-nya, EOS M, yang sudah berumur hampir dua tahun.

Baru-baru ini, Canon merilis EOS 1200D, penerus EOS 1100D, yang di-bundling dengan lensa EF-S 18-55 IS II f/3.5-5.6. Layaknya kamera DSLR entry level, bodinya berukuran relatif mungil, 129,6x99,7x77,9 mm. Sedikit lebih kecil jika dibanding dengan EOS 700D, namun tetap lebih besar dari EOS 100D. 

Meski mungil, kamera ini tetap nyaman digenggam. Bahkan ketika dioperasikan dengan satu tangan, EOS 1200D ini tetap stabil di genggaman. Hal itu didukung oleh grip yang bertekstur karet, layaknya DSLR Canon lainnya. Bobotnya yang hanya 435 gram (tanpa lensa) juga terasa pas.

Di bagian atas ada tombol putar untuk pengaturan mode kamera, dan sebuah tombol putar untuk mengatur aperture, ataupun shutter speed. Di belakang ada sejumlah tombol untuk pengaturan kamera, juga tombol Q untuk akses cepat ke sejumlah pengaturan kamera. 

Sayangnya, menurut detikINET, tombol-tombol di belakang kamera ini kurang timbul, sehingga agak sulit untuk ditekan, terutama untuk tombol display. Untungnya letak tombol-tombol tersebut tertata dengan baik sehingga mudah dijangkau. 

Berbagai menu untuk pengaturan kamera pun relatif mudah untuk digunakan, sekalipun untuk orang yang baru pertama kali menggunakan kamera DSLR.

Sebenarnya, Canon juga menyediakan aplikasi di iOS dan Android sebagai panduan dalam menggunakan EOS 1200D untuk pemula, namun sayangnya aplikasi tersebut saat ini tidak bisa diunduh dari Indonesia.

1. Fitur

Dijual dengan harga relatif murah, sekitar Rp 5 juta membuat EOS 1200D cukup minim fitur. LCD-nya yang berukuran 3 inch dengan 460 ribu titik itu tidak dilengkapi dengan teknologi touch screen, pun tidak bisa diubah posisinya. Fitur konektivitas nirkabel seperti WiFi dan NFC juga tidak tersedia di kamera ini. 

Di bagian samping kamera ada port USB untuk menghubungkan kamera dengan komputer, port HDMI, dan port untuk remote. Kompartemen baterai dan slot SD card terletak pada bagian bawah kamera. 

Diposisikan untuk sebagai kamera untuk orang yang baru pertama menggunakan DSLR, Canon juga memberikan sejumlah mode otomatis untuk memudahkan pemakainya, seperti: Scene Intelligent Auto, serta Creative filter.
Walaupun minim fitur, Canon membenamkan kemampuan untuk merekam video 1080p (30 fps/25 fps/24 fps) di EOS 1200D, tidak seperti di EOS 1100D yang hanya bisa merekam video 720p.

2. Performa


Sensor yang digunakan adalah APS-C CMOS beresolusi 18 megapixel, prosesornya menggunakan Digic 4, tidak seperti EOS 100D yang menggunakan Digic 5. 

Jangkauan ISO-nya dari 100 hingga 12800 (H). Namun dari hasil tes yangdetikINET lakukan, noise yang dihasilkan di ISO 1600 ke atas sudah mulai mengganggu kualitas gambar yang dihasilkan.

Bagaimana dengan autofocusnya? 1200D menggunakan sistem autofocus dengan 9 titik dengan 3 titik di tengah yang paling sensitif. Saat dicoba dalam keadaan menggunakan optical viewfinder, autofocusnya cepat dan akurat. Namun ketika digunakan dalam mode live view, kecepatan autofocusnya berkurang drastis, sekira 3-4x lebih lambat, namun tetap akurat.

Soal ketahanan baterai, Canon mengklaim baterainya bisa bertahan untuk pengambilan 500 gambar dengan optical viewfinder. Dalam pengetesan, baterainya tidak terlihat berkurang setelah menyalakan mode live view selama setengah jam.


DETIKNET.